Indonesian Culture

Senin, 21 Maret 2011

KInd of Java Batik part 1

Ini adalah beberapa motif batik dari daerah Jawa Tengah:

Batik Semarang
Diproduksi para pengrajin di Kampung Batik, Kelurahan Bubakan, Kecamatan Mijen, Semarang, batik Semarang juga menawarkan beragam motif yang khas dibanding motif-motif batik dari daerah Jawa Tengah lainnya. Pada umumnya batik Semarang berwarna dasar oranye kemerahan karena mendapat pengaruh dari China dan Eropa. Selain itu, motif dasar batik Semarang banyak dipengaruhi budaya China yang pada umumnya banyak menampilkan motif fauna yang lebih menonjol daripada flora. Misalnya merak, kupu-kupu, jago, cendrawasih, burung phoenix, dan sebagainya. Adapun motif Semarang yang menonjolkan ikon kota Semarang seperti Tugu Muda, Lawang Sewu, Burung Kuntul, Wisma Perdamaian, dan Gereja Blenduk.
Beberapa motif dari batik Semarang:
Beberapa motif dari batik Semarang:
              Franquemont 


 
                          Oosterom

Franquemont juga mengambil figure-figur dan atribut dari berbagai dongeng Eropa yang ditampilkan berulang pada badan kain batik.

Batik Oosterom cirinya memiliki pola yang rumit salah satu kreasinya dengan motif pola sirkus yang menggambarkan penunggang kuda, orang berdansa, bangunan mirip kastil, pohon palma, dilengkapi dedaunan dan burung mirip phoenix.



Semarang Pesona Asia
Motif menggambarkan keikutsertaan kreasi Batik Semarang 16 dalam perayaan kesenian pada Semarang Pesona Asia, Agustus 2007.

 FLORA DAN FAUNA

 Blekok Srondol
Motif batik ini menggambarkan sepasang burung blekok yang sedang bercengkrama. Pola motif batik ini terinspirasi oleh keberadaan habitat burung blekok liar yang terdapat di kawasan Srondol, Semarang. Burung-burung itu biasanya bertengger di antara cabang-cabang pohon asem yang ada di depan Markas Banteng Raider di Srondol. Motif ini melambangkan keseimbangan lingkungan, baik alam maupun sosial.
 Mliwis Rowosari
Motif batik ini menggambarkan sepasang burung belibis (mliwis) yang sedang mencari makan di sebuah rawa. Motifnya terinspirasi oleh kawanan burung belibis yang biasa ditemui di rawa-rawa daerah Medoh di Semarang. Selain kebebasan, motif ini menggambarkan hubungan sosial yang rukun seperti ditunjukkan oleh kawanan burung belibis tersebut.
Merak Njeprak
Motif batik ini menggambarkan seekor burung merak yang sedang mengembangkan ekornya secara penuh untuk menunjukkan keindahannya. Pola ini terinspirasi perilaku burung merak untuk menarik pasangannya. Motif ini menyimbolkan keagungan, keindahan, dan semangat menggapai tujuan.
Merak Mangu
Motif utama menggambarkan burung merak yang sedang termangu atau termenung karena sendirian. Motif ini melambangkan proses permenungan akan hakikat keindahan.
 Sekar Sumebar
Motif ini didominasi bunga yang tersebar secara rapi. Bunga yang disebar, tidak hanya tampak dari depan, namun juga dari samping. Motif ini terinspirasi oleh sebaran bebungaan pada nisan. Dengan begitu motif ini menjadi simbol permenungan mengenai kehidupan setelah kematian.
 KUINER

Mina Cinangkingan-1
Ini adalah varian pertama dari motif Mina Cinangkingan alias bandeng presto yang merupakan salah satu jenis makanan khas Semarang yang sering dijadikan buah tangan. Dalam motif berjenis geometris ini, ikan bandengnya ditonjolkan, dan Tugumuda yang ada pada motif Mina Cinangkingan tidak dimunculkan.

Urang Jinejer Tahu
Urang Jinejer Tahu adalah nama untuk motif kuliner tahu gimbal. Penganan itu merupakan paduan antara tahu dengan udang bungkus tepung yang dibumbui pedas dan kecap. Dalam motif ini, dengan jelas ditampilkan tahu dan udang, serta sebentuk stilisasi yang merepresentasikan wadah kecap.
EKSPLORASI SEJARAH DAN KOTA LAMA SEMARANG
 Gereja Blendoek Kekiteran Asem
Motif ini bisa disebut varian dari beberapa motif ikon yang dikitari sulur-sulur tanaman seperti Tugumuda Kekiteran Sulur. Pada motif ini, ikon yang ditampilkan adalah Gereja Blendoek, gereja warisan Belanda yang berada di kawasan Kota Lama. Motif ini melambangkan semangat pelestarian warisan budaya dan juga pelestarian lingkungan.

 Cheng Ho neng Klenteng
Motif batik ini menggambarkan kebesaran dan keagungan Laksamana Cheng Ho, panglima perang armada laut dari Cina yang diyakini pernah singgah di Semarang seperti ditunjukkan oleh Kelenteng Sam Po Kong. Motif utama ini dilengkapi dengan motif tambahan yaitu Klenteng Sam Po Kong yang digambarkan menggantung di atas awan. Motif ini menyimbolkan kejayaan, solidaritas, dan pluralitas masyarakat Semarang, sekaligus menyimbolkan perdamaian.
Di Sanggar
Motif menggambarkan kunjungan Walikota Semarang beserta istri ke sanggar.


Batik Solo
Kota Solo memang merupakan salah satu tempat wisata belanja kain batik terkenal di Indonesia. Di sini banyak sekali terdapat sentra kain batik, yang tersohor antara lain kawasan Kampung Batik Laweyan dan kawasan Kampung Wisata Batik Kauman. Batik Solo terkenal dengan corak dan pola tradisionalnya batik dalam proses cap maupun dalam batik tulisnya. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk pewarnaan masih tetap banyak memakai bahan-bahan dalam negeri seperti soga Jawa yang sudah terkenal sejak dari dahulu. Polanya yang terkenal antara lain “Sidomukti” dan “Sidoluruh”. Batik Solo memiliki warna dominan cokelat soga kekuningan.
Beberapa motif dari batik Solo:

Motif Sidomukti – Agar selalu mukti, berkecukupan, motif ini biasanya digunakan saat upacara Panggih Pengantin

sido mukti   sido luhur   sido mulyo   sido asih

Motif Sido-Mukti biasanya dipakai oleh pengantin pria dan wanita pada acara perkawinan, dinamakan juga sebagai Sawitan (sepasang).
Sido berarti terus menerus atau menjadi dan mukti berarti hidup dalam berkecukupan dan kebahagiaan. jadi dapat disimpulkan motif ini melambangka harapan akan masa depan yang baik, penuh kebahagiaan unuk kedua mempelai.
 
Selain Sido Mukti terdapat pula motif Sido Asih yang maknanya hidup dalam kasih sayang.
Masih ada lagi motif Sido Mulyo yang berarti hidup dalam kemuliaan dan Sido Luhur yang berarti dalam hidup selalu berbudi luhur.
sido mulyo
sido luhur
            
Ada pula motif yang bukan sawitan kembar, tetapi biasanya dipakai pasangan pengantin yaiu motif Ratu Ratih berpasangan dengan Semen Rama, yang melambangkan kesetiaan seorang istri kepada suaminya.
Semen Rama
ratu ratih 



Pada Upacara Perkawinan Orang tua pengantin biasanya memakai motif  truntum yang dapat pula berarti menuntun, yang maknanya menuntun kedua mempelai dalam memasuki liku-liku kehidupan baru yaitu berumah tangga.

Dikenal juga motif Sido Wirasat, wirasat berarti nasehat, dan pada motif ini selalu terdapat kombinasi motif truntum di dalamnya, yang melambangkan orangtua akan selalu memberi nasehat dan menuntun kedua mempelai dalam memasuki kehidupan berumahtangga.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar