Indonesian Culture

Senin, 21 Maret 2011

Info mengenai Pengrajin Batik

Pengrajin Batik Di Indramayu
 Nasib pengrajin batik tulis tradisionil Indramayu  mulai terangkat sejak pemerintah menggalakan pakaian  batik  bagi PNS termasuk karyawan swasta.
Terangkatnya nasib pengrajin batik tulis Indramayu ditandai dengan meningkatnya jumlah order atau pesanan batik tulis khususnya dari PNS maupun karyawan swasta yang benar-benar menghendaki kualitas terbaik produk batik tulis.
Rokhmat, 56 salah seorang pengrajin batik di Kelurahan Paoman Kecamatan Indramayu mengatakan, pengrajin batik tulis  di  Indramayu merupakn warisan budaya tradisional yang sudah ada sejak jaman penjajahan.
Desa-desa diKabupaten Indramayu yang selamaini dikenal sebagai daerah sentra batik tulis umumnya berada di pesisir meliputi  Kelurahan Paoman, Desa Pabean Udik, Karang Song, Terusan, Sindang dan Dermayu.
Dalam perkembangannya, batik tulis Indramayu itu kurang menggembirakan. Hal itu terjadi semenjak maraknya produk batik cap atau printing dari luar daerah. Batik cap itu selain bias diproduksi secara  massal juga harganya  lebih murah dibandingkan batik tulis asli. Sehingga produk batik itu bias dijangkau semua lapisan masyarakat.
Ini berbeda dengan batik tulis Indramayu. Selain harganya relative lebih mahal dibandingkan produksi batik cap, cetak atau printing jumlah produknya tidak bisa dibuat secara massal atau besar-besaran. Selembar kain batik tulis  membutuhkan waktu pembuatan sampai puluhan hari. .
“Kalau batik tradisionil dibuat dengan cara ditulis atau digambar dengan tangan menuruti  pola yang ada menggunakan canting. Lamanya waktu pembuatan  mencapai puluhan hari. Ini yang  membuat biaya produksi batik tulis  Indramayu mahal. Sehingga harganya tidak terjangkau masyarakat bawah,”ujarnya.
Harga selembar kain batik tulis Indramayu paling murah  Rp150  ribu dan paling mahal sampai mencapai jutaan rupiah. Omzet penjualan kain batik tulis Indramayu terbatas, hanya kepada kalangan tertentu. Hanya pembeli yang benar-benar mengerti kualitas batik tulis asli yang membeli produk batik tulis dari Indramayu itu.
Ditanya mengenai motif batik tulis Indramayu, kata Amah,59 salah seorang pengrajin batiktulis di Kecamatan Sindang, memang berbeda dengan motif batik tulis maupun batik cap atau printing produksi dari Solo, Yogya, Pekalongan maupun Cirebon.

batik-indramayu
Pengrajin Batik Di Pekalongan
Sejumlah perajin batik Kota Pekalongan, Jawa Tengah, mulai menghentikan pesanan barang dari para konsumen. Hal ini karena mereka tidak mampu lagi mengikuti laju kenaikan harga bahan baku batik.

Ketua Paguyuban Serikat Pembatik Pasirsari Kota Pekalongan, Sodikin, Ahad (7/11) mengatakan, kenaikan harga bahan bahan baku batik yang terjadi dalam beberapa pekan ini mengakibatkan perajin kesulitan melayani pesanan.

"Saat ini sejumlah perajin batik mulai menghentikan order dari pengusaha karena harga bahan baku batik terus semakin naik," kata Sodikin.

Menurut Sodikin, harga bahan baku jenis katun semula Rp 5.700 per yard kini naik mencapai Rp 7.800 per yard, jenis rayon dari Rp 6.000 per yard naik Rp 7.900 per yard, jenis dobi Rp 10 ribu per yard naik Rp 10.700 per yard, dan viskos semula Rp 11 ribu naik Rp12.000 per yard.

Jika pun ada perajin yang masih membatik, kata Sodikin, kemungkinan karena mereka harus memenuhi pesanan dari pengusaha yang belum terselasaikan. "Namun yang pasti, sejumlah pengrajin yang sudah tak menanggung beban pesanan, mereka lebih memilih berhenti menerima order," katanya.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UMKM Kota Pekalongan, Slamet Prihantono mengatakan, pemkot segera berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mengambil langkah yang tepat agar perajin batik tetap bisa beraktivitas lagi.

Bahan Baku Melambung, Perajin Batik Pekalongan Hentikan Pesanan

Pengrajin Batik Di Jawa Barat
Perkembangan industri pembuatan batik Jawa Barat terkendala persoalan regenerasi. Banyak anak pengusaha dan pengrajin batik yang tidak ingin meneruskan keahlian membatik yang dimiliki orang tuanya.
"Regenerasinya lambat," kata pengusaha Batik Komar asal Bandung, Komarudin Kudiya, ketika ditemui di sela kunjungan kerja Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu, di Cirebon Jawa Barat, Sabtu 14 Maret 2009.

Komar, panggilan akrab Komarudin, juga menjabat sebagai Ketua Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia dan desain Yayasan Batik Indonesia (YBI).

Menurut dia, anak pengusaha dan pengrajin batik setelah disekolahkan tinggi-tinggi biasanya tidak ingin kembali ke dunia batik. "Mereka lebih suka bekerja sebagai SPG (sales promotion girl) atau industri rotan saat booming dulu," ujar dia.
Hingga saat ini, Komar sudah mempunyai 250 orang tenaga pembatik.

Dia memperkirakan, industri batik di Jawa Barat telah menyerap sekitar 2.700 orang tenaga kerja.

Untuk menjadi seorang pembatik, dia melanjutkan, bisa karena tiga alasan. Di antaranya karena ada bakat turun-temurun atau darah seni dari orang tua, lingkungan yang mendukung, atau sengaja belajar.
"Masih ada sekolah kejuruan batik dan di ITB (Institut Teknologi Bandung) juga masih ada kriya tekstil," ujarnya.

Untuk masyarakat awam, Komar memperkirakan waktu dua atau tiga bulan agar bisa lancar membatik.

Menurut Komar, selain pembatik, penting juga untuk memberdayakan pembuat alat cap batik. "Butuh ketrampilan khusus untuk membuatnya. Harus dilatih dulu," katanya.
Dalam workshop-nya di Bandung, Komar sudah mempunyai 10 orang pembuat cap batik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar